SELAMAT DATANG DI BLOG, BOCAH 1922. TEMPAT BERBAGI INFORMASI SEPUTAR TEKNOLOGI, INFORMASI DAN PENGETAHUAN

Budaya dan Kebiasaan Buruk Orang Indonesia





1- Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Pertama kita patut bersyukur dengan dibentuknya KPK. Kita mulai bisa melihat dan merasakan adanya upaya serius dalam membongkar kasus-kasus korupsi, kolusi yang selama ini terus ditutup-tutupi dan menghukum para pelakunya yang umumnya adalah para pejabat pemerintah.
Berbuat korupsi sama juga dengan membunuh bangsa. Negara manapun tidak akan pernah sejahtera jika pejabat2nya telah terbiasa melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Pejabat2 korup di suatu negara bisa diibaratkan seperti tumor ganas dalam tubuh manusia, kalau tumor itu tidak dibuang maka selamanya hidup manusia itu akan terus meradang dan kesakitan.

2-Kebiasaan jilat menjilat dan beking membeking.
Saya yakin kita semua sudah tahu, siapa yang dimaksud dengan penjilat. Bagi mereka yang bekerja di perkantoran pasti sudah tidak asing lagi. Mereka mengibaratkan penjilat adalah teman yang menikam dari belakang atau musuh dalam selimut. Karena penjilat adalah orang yang mencari keuntungan dengan mengorbankan teman sendiri.
Itulah gambaran jilat menjilat di lingkungan perkantoran. Bagaima pula halnya jilat menjilat di lingkungan bernegara? Pastilah penjilatnya berasal dari oknum2 pejabat pemerintah dan penegak hukum, atau sebaliknya merekalah yang menjadi objek penjilat. Kalau di lingkungan kantor yang menjadi korban adalah pegawai biasa, namun di lingkungan negara yang menjadi korban adalah rakyat dan negara itu sendiri. Kasus pelemahan KPK dan skandal Bank Century salah satu contoh yang tidak lepas dari upaya jilat menjilat antara oknum pejabat, penegak hukum dengan orang seperti Anggoro/Anggodo atau sebaliknya, demi mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok tertentu.
Di zaman penjajahan Belanda kita menyebut penjilat2 itu sebagai Antek-antek Belanda. Mungkin di zaman sekarang kita bisa menyebut mereka sebagai Antek-antek penjajah atau sebagai bodyguardnya para koruptor. Sungguh ironis nasib bangsa ini jika orang-orang seperti Anggoro, joko candra dll bisa menjadi “BOS BESAR”nya para pejabat dan penegak hukum kita.

3-Meng-agung2kan segala hal yang berbau asing.
Salah satu yang membuat ekonomi kita terus menerus terjajah di abad modern ini adalah karena sikap kita yang terlalu mendewa-dewakan orang asing dan segala yang berlabel asing, sehingga membuat kita tidak percaya diri dan tidak bisa melepas diri ketergantungan kepada asing. Kita selalu merasa takut ditinggal investor asing. Selalu mengukur kemajuan pada banyaknya orang asing yang datang, banyaknya bangunan apartement mewah yang menampung orang asing, dan banyaknya sewalayan-swalayan asing. Inilah yang menyebabkan kita selalu ditakut-takuti dan didikte oleh bangsa-bangsa lain? Padahal kita adalah bangsa besar. Rakyat kita adalah pasar yang besar. Negara kita negara kaya raya. Kita punya gunung emas di Irian. Kita punya pulau Natuna dan beribu pulau lain yang penuh dengan kekayaan alamnya. Kita juga punya kekayaan gas dimana-mana. Kita punya lautan luas yang termasuk salah satu terhebat di dunia. Kita punya hutan dan tanah yang sangat subur yang bisa dibilang paling subur didunia karena cukup matahari dan hujan, karena terletak di sepanjang khatulistiwa. Kita juga punya tambang, minyak bumi, timah, batubara dll. Intinya kita punya segala-galanya. Cuma satu yang tidak kita punya yaitu Mental untuk merdeka, dan berdiri diatas kaki sendiri.

4. Kebiasaan berhutang dan membeli cara mengkredit.
Ternyata kebiasaan ini tidak hanya membudaya pada level masyarakat biasa, namun juga menjadi budaya di level elit dan para pemimpin negara.
Berhutang membuat kita terikat dan tidak lagi bebas. Apalagi berhutang dengan harus menandatangani sejumlah persyaratan2 sebagaimana yang pernah kita lakukan dengan IMF yang ternyata lebih banyak mudhorat(kerugian) dari pada manfaatnya.

5. Selalu ingin memperoleh sesuatu dengan cara Instan.
Bisa dibilang orang-orang yang selalu memakai cara-cara instan dalam mencapai tujuan atau mendapat apa yang diinginkan adalah orang-orang pemalas karena tidak mau berkeringat, tidak kreatif karena tidak mau berfikir, pengecut karena tidak berani menerima tantangan. Orang-orang seperti ini tidaklah layak untuk memikul tugas dan menerima tanggung jawab apapun. Mungkin saja sebagian besar dari masyarakat kita ini lebih memilih cara-cara instan sehingga seperti inilah jadinya negara kita.

6. Berlaku sok jagoan yang siap menerima tantangan apapun.
Dalam hal ini saya hanya berharap kepada pemimpin2 bangsa agar lebih membela kepentingan rakyatnya sendiri, dan memproteksi seluruh kekayaan alam kita dari kelicikan bangsa-bangsa lain yang ingin menjadikan negara ini sebagai sapi perahan buat mereka.
Kita tidak boleh sok jago dengan membuat negeri ini menjadi seperti las vegas. Dan kita jangan berlagak seperti koboi yang menjunjung sportifitas. Kita harus tahudiri, menyadari siapa diri kita. Kita tidak boleh mengadu krisjon dengan mike tyson, Malaysia saja yang lebih makmur dari kita bertindak memproteksi diri dengan mematok kurs dollar saat krisis. Amerikapun negara super power sangat memproteksi negaranya sendiri. Apalagi kita negara yg masih bau kencur, belum waktunya untuk meliberalkan ekonomi, apalagi degan melakukan perdagangan bebas.

7. Mendahulukan keuntungan pribadi daripada kepentingan bangsa dan negara.
« Asal aku dapat keuntungan besar, apapun akan aku lakukan. Mau mereka jungkir balik kek mau mampus kek aku tidak peduli ».
Mungkin begitulah kira2 pemikiran orang-orang yang tidak lagi mempedulikan bangsa dan negaranya. Orang-orang seperti ini akan menempuh segala cara untuk mendapat keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi segan2 menipu dan mengakali rakyatnya sendiri. Jika orang2 yang bermental seperti ini berpolitik maka dia akan melakukan politik2 kotor seperti jual beli suara, politik dagang sapi dll. Orang-orang seperti ini juga rela merusak negara sendiri dan menjajah bangsa sendiri demi kekayaan pribadi. Selama orang-orang bermental seperti ini masih bercokol di bumi kita ini, maka selama itu pula kita akan melihat tindakan-tindakan dan politik yang tidak bermoral, tidak peduli dan pengrusakan secara membabi buta di segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dan juga kerusakan pada alam lingkungan yang menjadi sumber penghidupan.

8. Kalah dalam segala event & Tertinggal jauh dalam cara berfikir.
Sudah menjadi tradisi bahwa kita selalu kalah dalam banyak hal, baik dalam pertandingan, dalam berkarya bahkan dalam cara berfikir.
Kita masih saja berfikir bagaimana menjual bahan baku, sedangkan bangsa-bangsa lain sudah berfikir bagaimana mengelola dan mengeksport produk.
Kita masih saja berfikir bagaimana cara mengkadali dan mencari keuntungan dari bangsa dan rakyat sendiri yang memang masih sangat lugu dan polos, sedangkan bangsa-bangsa lain sudah berfikir bagaimana cara mengakali dan mencari keuntungan dari Negara2 lain.

9. Tidak ber-sungguh2 dan serius dalam berkarya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebahagian besar produk-produk karya anak bangsa kita kurang diminati dan kurang populer di Negara-negara lain, bahkan di negeri sendiri sajapun masih belum mampu menjadi tuan rumah. Dalam hal ini sepertinya saya lebih setuju dengan pendapat para teman-teman yang mengatakan bahwa, kurang diminatinya produk2 hasil karya bangsa kita sebab, dalam membuat produk apapun bangsa kita kurang serius dan kurang ber-sungguh2 menekuni hasil karyanya.

10. Kebiasaan tidak disiplin dan melanggar hukum dan peraturan.
Sudah banyak sekali contoh membuktikan bahwa orang2 yang berhasil sukses adalah orang2 yang selalu mentaati disiplin dan peraturan. Baik itu peraturan yang dibuat untuk diri sendiri atau peraturan Agama dan peraturan Negara. Ingatlah satu negara bisa makmur bila rakyatnya memiliki budaya berdisiplin yang tinggi. Lihat saja seperti Jepang, Korea Singapore dll.
Sementara di Indonesia sepertinya Tidak-berdisiplin dan melanggar hukum dan peraturan sudah jadi budaya kita. Sepertinya peraturan sengaja dibuat untuk dilanggar. Memang ada benarnya semboyan yang mengatakan “Bukan peraturan namanya kalau tidak dilanggar” Tapi kalau terus menerus melanggar peraturan itu namanya salah kaprah. Dari hal-hal kecil seperti memungut pajak dari orang2 pedagang kaki lima, menerima uang dalam kasus Tilang menilang, sampai hal-hal berskala besar.
Kalau kita benar-benar mau melihat negara ini aman, nyaman indah, makmur, dan sentosa, maka biasakanlah berdisiplin dan mentaati segala hukum dan peraturan, baik itu peraturan yang dibuat negara ataupun peraturan agama, termasuk juga peraturan yang menyangkut ketertiban umum, pemukiman dan kelestarian alam lingkungan dll.


[Read More...]


Nyadran Dalam Budaya Jawa




Untuk masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritus ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu Yadran adalah suatu ritual sebagai suatu bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam kitab Negara Kertagama disebutkan bahwa nyadran berasal dari kata “ srada ” yang berarti peringatan 12 hari kematian. Dalam tradisi nyadran, syukuran yang dilengkapi dengan doa  merupakan ritual inti. Ini dilakukan sebagai timbal balik mereka atas rejeki yang mereka peroleh selama ini dan harapan atas rejeki yang akan datang.



Menurut catatan sejarah, tradisi nyadran memiliki kesamaan dengan tradisi craddhayang ada pada masa kerajaan Majapahit. Kesamaannya iakah pada ritual manusia yang berkaitan dengan leluhur yang sudah meninggal, misalnya seperti pengorbanan, sesaji, dan ritual sesembahan yang pada dasarnya adalah suatu bentuk penghormatan kepada yang sudah meninggal. Secara etimologis, kata craddha berasal dari bahasa Sansekerta “sraddha” yang memiliki arti keyakinan, percaya atau kepercayaan. Masyarakat Jawa kuno mempunyai kepercayaan bahwa leluhur yang telah meninggal, sebenarnya masih ada dan mempengaruhi kehidupan keturunannya. Oleh karena itu, masyarakat Jawa benar - benar memperhatikan waktu, hari dan tanggal meninggalnya leluhur.

Ketika Islam datang ke pulau Jawa pada abad ke-13, banyak tradisi Hindu-Buddha yang bercampur dengan ajaran Islam. Percampuran budaya ini semakin kental ketika Walisongo melakukan dakwah Islam di Jawa mulai abad ke-15. Proses pengislaman berlangsung sukses dan menghasilkan sejumlah perpaduan ritual, salah satunya ialah tradisi sraddha yang menjadinyadran. Karena pengaruh agama Islam pula makna nyadran mengalami pergeseran, yang awalnya hanya berdoa kepada Tuhan, menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan kepada bulan Sya’ban atau Nisfu Sya’ban. Ini dikaitkan dengan ajaran Islam bahwa bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan, merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia. Jadi nyadran merupakan sebuah upacara keagamaan yang masih terpengaruh oleh kepercayaan tradisional. Di satu sisi, nyadran merupakan proses berdoa kepada Tuhan, tapi di sisi lain masih dikaitkan dengan kepercayaan tradisional yang menganggap datangnya arwah leluhur pada waktu – waktu tertentu.


Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.



Selesai melakukan pembersihan makam, masyarakat kampung menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga). Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kenduri itu.



Tiap keluarga biasanya akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya.



Dari tata cara tersebut, nyadran terlihat sarat dengan nilai-nilai sosial budaya seperti budaya gotong royong, guyub, dan pengorbanan.

Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayem, dan tenteram.


Bahkan, juga menjadi ajang silaturahmi keluarga sekaligus transformasi sosial dan budaya. Biasanya pada saat nyadran, beberapa warga perantau mudik (dulu bahkan tak kalah ramai dari mudik Lebaran) dan setelah itu mereka mengajak saudara di desa ikut merantau, mencari pengharapan yang lebih baik. Dalam konteks itu terlihat jelas ada kearifan lokal terkait kekerabatan dan kebersamaan di antara warga atau keluarga. Selain itu, meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial) sehingga akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari. Persoalannya sekarang adalah bagaimana menjaga tradisi ini tidak terkikis atau hilang ditelan perkembangan zaman mengingat kemelunturan antusiasme generasi muda akan tradisi tersebut luntur


[Read More...]


ARTI KENDUREN DAN MAKNANYA DALAM BUDAYA JAWA





Kenduren pada dasarnya adalah ritual selametan yakni berdoa bersama yang dihadiri para tetangga dan dipimpin oleh pemuka adat atau tokoh yang dituakan di satu lingkungan. Biasanya disajikan juga tumpeng lengkap dengan lauk pauknya yang nantinya akan dibagikan kepada yang hadir.
Dalam tradisi Jawa, Kenduren sendiri terdiri dari berbagai jenis. Kenduren Wetonan, Sabanan, Likuran, Badan, Ujar, dan Muludan.
Kendurenan Wetonan merupakan selametan yang dilakukan pada hari lahir. Hal in ini juga kerap dilakukan hampir setiap warga. Tidak semua anggota keluarga dilakukan tradisi Kenduren Weton saat ia merayakan hari lahir. Biasanya satu keluarga hanya merayakan satu kali wetonan yakni pada saat hari lahir anak tertua dalam keluarga tersebut.
Dalam kenduri tiap orang menjadi “kita”. Kepala desa, siapa pun dia, apa pun agama dan aliran politiknya, dia itu “kita”. Dan karena itu maka dia wajib didukung, kelemahannya ditutup, kekurangannya ditambah, aibnya jangan dibeberkan ke mana-mana karena bukankah aib kepala desa juga aib “kita”.
Pada dasarnya pesan yang tersirat dalam tiap jenis kenduri di desa adalah mengkukuhkan makna kekitaan “kita”. Kesatuan sikap dan cita-cita bersama diteguhkan kembali. Dan bila ada —memang ada saja— keretakan kecil antara hati dengan hati, maka melalui kenduri persatuan diperketat. Dengan suapan nasi, bunyi dan isi doa, dan dengan salaman tangan yang tulus, yang retak itu ditambal dan menjadi utuh kembali.
Kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama tadi. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan. Dan tiap “kita”, di sana, menemukan rasa aman. Dalam kenduri tak ada pihak yang kalah atau dikalahkan. Di sana semua pihak terhormat. Tiap orang menang, dan bahagia!!.

Manifestasi di lapangan
Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang didoakan, dan keluarganya. Di beberapa daerah, kenduren itu sendiri bisa ditemui dengan jenis yang bermacam-macam, seperti:
1.    Kenduren wetonan (wedalan), dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang. Di beberapa tempat, kenduren jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).
2.    Kenduren munggahan. Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur. Beberapa tempat di menybutnya sebagai selamaten pati, artinya kenduren ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduren tersebut. Bagi sebagaian orang kenduren ini juga biasanya dikenal sebagai kenduren/selamatan ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000 hari wafatnya seseorang.
3.    Kenduren likuran. Kenduren ini dilaksanakan pada tanggal 21 bulan Ramadhan, yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an.
4.    Kenduren badan (lebaran/mudunan). Kenduren ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge). Kenduren ini sama seperti kenduren Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. Yang membedakan hanya, sebelum kenduren badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.
5.    Kenduren ujar. Kenduren ini dilakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan tertentu, atau yang punya
 ujar/omong atau cita-cita. Kenduren ini juga sering dilakukan ketika seseorang telah memperoleh anugerah, seperti lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan dan lain sebagainya.
6.    Kenduren mauludan. Kenduren ini dilakukan pada tanggal 12 bulan Maulud. Dalam sebagian tradisi kenduren juga dilakukan dilakukan di hari-hari besar Islam.
Kerap kali kita jumpai dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah mengenai ritual kenduri ini berbeda-beda, baik dalam bentuk nama, pelaksanaan, konsep yang dipakai bahkan menu sajiannya. Namun, dari kesekian macam ritual tersebut mempunyai nilai subtansi yang sama, yaitu berdo’a. Baik untuk sang empunya hajat maupun orang lain.
Munajat do’a inilah yang dahulu konon diperoleh dari dampak keluwesan dan dinamisasi ajaran-ajaran yang dibawah oleh walisongo dalam menyebarkan dawai-dawai sabda ilahi melalui produk ajaran-Nya, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto (http://www.antaranews.com) menegaskan bahwa budaya kenduri kematian yang dilakukan umat Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu atau Budha karena di kedua agama itu tidak ditemukan ajaran kenduri.
Agus menegaskan bahwa, dalam agama Hindu atau Budha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000. Bahwa catatan sejarah menunjukkan orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Orang-orang Campa juga menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan maulid Nabi Muhammad SAW.
Dari mencermati fakta tersebut, maka Agus berkeyakinan tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah. Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji-muji Nabi Muhammad menunjukkan keterkaitan tersebut.
Jika kita mau merunut sejarah, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW.
Fenomena sublimasi nilai ritual dan budaya ini jika ditinjau dari aspek sosio-historis adalah dikarenakan munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi oleh pengungsi dari Campa yang beragama Islam. Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya.
Hal ini bisa dilacak melalui contoh kebiasaan orang Campa yang memanggil ibunya dengan sebutan “mak”, sedangkan orang-orang Majapahit kala itu menyebut “ibu” atau “ra-ina”. Di Surabaya dan sekitarnya, tempat Sunan Ampel menjadi raja, masyarakat memanggil ibunya dengan sebutan “mak”. Pengaruh kebiasaan Campa yang lain terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau yang lebih tua dengan sebutan “kang”, sedangkan orang Majapahit kala itu memanggil dengan sebutan “raka”. Untuk adik, orang Campa menyebut “adhy”, sedangkan di Majapahit disebut “rayi”.
Pada dasarnya ada perbedaan diantara pengaruh muslim Cina dengan Campa di masa-masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit atau di era Wali Songo. Muslim Campa selama proses asimilasi melebur dengan penduduk setempat, hingga watak Campanya hilang dan berbaur dengan kejawaan. Sedangkan muslim Cina masih cukup kuat menunjukkan eksistensi kecinaannya sampai beberapa abad

Kenduren memang sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Meski terkesan sederhana, tradisi ini memang memiliki makna yang mendalam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga positif secara sosial kemasyarakatan karena dapat memperkuat ikatan sillahturahmi satu sama lain. Tidak heran jika tradisi ini dikatakan sebagai tradisi yang sangat merakyat.
[Read More...]


Tari serampang dua belas



tari serampang dua belas merupakan salah satu tarian budaya asal sumetera utara yang berkembang pada masa Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 .

Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.

Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang  di Kabupaten Serdang Bedagai (dahulu Kabupaten Deli Serdang). Tari ini merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Inilah salah satu cara masyarkat Melayu Deli dalam mengajarkan tata cara pencarian jodoh kepada generasi muda. Sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun mahligai rumah tangga.
Nama Tari Serampang Dua Belas dahulu lebih dikenal dengan nama Tari Pulau Sari. Hal ini mengacu pada judul lagu yang mengiringi tarian tersebut, yaitu lagu Pulau Sari. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada era 1940-an dan digubah ulang antara tahun 1950—1960. Sauti yang lahir tahun 1903 di Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai ketika menciptakan Tari Serampang Dua Belas sedang bertugas di Dinas PP&K Provinsi Sumatra Utara. Atas inisiatif dari Dinas yang menaunginya, Sauti diperbantukan menjadi guru di Perwakilan Jawatan Kebudayaan Sumatera Utara di Medan. Pada masa itulah sauti menciptakan beberapa kreasi tari yang terkenal hingga sekarang termasuk Tari Serampang Dua Belas. Selain Tari Serampang Dua Belas, Sauti juga berhasil menggubah bebarapa tari lain, yaitu tari jenis Tiga Serangkai yang terdiri dari Tari Senandung dengan lagu Kuala Deli, Tari Mak Inang dengan lagu Mak Inang Pulau Kampai, dan Tari Lagu Dua dengan lagu Tanjung Katung.
Pada awal perkembangannya, Tari Serampang Dua Belas hanya boleh dibawakan oleh laki-laki. Hal ini karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya. Tetapi dengan perkembangan zaman, di mana perempuan sudah dapat berpartisipasi secara lebih leluasa dalam segala kegiatan, maka Tari Serampang Dua Belas kemudian dimainkan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan di berbagai pesta dan arena pertunjukan.
Hingga saat ini, Tari Serampang Dua Belas sudah berkembang ke beberapa daerah di Indonesia selain Sumatra Utara, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Selain dikenal dan dimainkan di seluruh tanah air, Tari Serampang Dua Belas juga terkenal dan sering dibawakan di beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong. Keberadaan Tari Serampang Dua Belas karya Sauti ini, mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh tanah air dan negara tetangga. Seiring dengan perkembangan ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai beinisiatif untuk melindungi hak cipta tari ini sebagai aset dan kekayaan daerah tersebut. Untuk mendukung rencana ini, maka pemerintah setempat mengadakan seminar mengenai Tari Serampang Dua Belas. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kembali pada masyarakat banyak tentang asal muasal dari tari ini, sehingga generasi muda tahu dan mengerti. Selain itu, diadakan juga berbagai pagelaran lomba Tari Serampang Dua Belas terutama untuk kalangan masyarakat yang berada di kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.
[Read More...]


KODE RAHASIA WARGA IKS PI KERA SAKTI INDONESIA?




Sumber:
http://persaudaraansetiahatisidoarjo.blogspot.com/2011/04/inilah-kode-dari-iks-pi.html
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2014 | White Theme Blog by Bocah 1922